Part 1

Proposal Ilmiah

Hari sabtu proosalku telah selesai. Ya proposal Proyek Akhir. Proposal Proyek Akhir atau yang sering disebut proposal PA atau bila melihat perbedaan zaman maka sering disebut proposal skripsi.

Proposal PA ini yang pada awalnya saya bingung. Bingung karena menentukan judul. Awalnya saya brfikir untuk mengambil judul tentang security camera namun dari hasil konsultasi yang dapat di teliti yaitu mengenai pengukuran. Dalam hati kecilku berfikir “ko Cuma ngukur? emang nggak ada yang bisa di oprek lagi lagi ya?” nampakna kurang menantang bila yang dilakukan hanya mengukur kinerja hasil penerapan DVR. Memang pada awalnya ide ini berangkat dari laboratorium CATV yang biasa saya tongkrongi. Ide awal ini karena terdapat alat baru yang baru saja turun dari jurusan yaitu DVR.

DVR ini kepanjangan dari Digital Video Recorder. Mungkin bila mengerti arti dari tiap kata ini maka dapat ditebak untuk apa perankat ini ada. Perekam video digital, bagitulah bila DVR itu diartikan dalam bahasa Indonesia. Alat ini dapat bekerja otomatis bila ada gerakan yang ditangkap CCTV. Karena ada motion detectornya maka tiap ada orang yang lewat secara otomatis akan merekam. Apalagi alat ini dapat terkoneksi dengan internet, jadi tidak perlu membangun jaringan lagi untuk menyaksikan tampilan yang ditangkap CCTV. Ya alat ini secara umum digunakan untuk security pada gedung-gedung. Mungkin bagi temen-temen yang tidak mengerti mengenai CCTV atau pengamanan gedung yang berbasis kemera tersembunyi akan sulit memahami mengenai alat ini. Namun secara umum itulah yang dapat saya gambarkan ketika behadapan dengan kamera tersembunyi.

Dari hasil konsultasi mengenai alat ini maka yang dapat dilakukan adalah pengukuran performansi jaringan. Akhirnya saya coba untuk berkonsultasi kedosen lain mengenai judul kedua saya.

Judul kedua saya adalah mengenai pemanfaatan sumber suara. Dari hasil penelusuran di internet pemanfaatan sumber suara untuk menghasilkan energi listrik dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan sensor suara dengan prinsip kerja piezoelektrik. Dari sensor ini suara dapat diubah menjadi elektromagnetik dan secara teori elektromagnetik ini dapat disimpan sebagai cadangan energi istrik. Ya mungin bila di bayangkan seseorang yang nyanyi dapat menerangi cahaya lampu di diskotik. Ya hanya orang yang mempunyai imajinasi yang tinggi saja yang dapat berhayal hingga hayalannya setinggi itu. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Hasil energi listrik dari sumber suara yang dapat didengar manusia hanya dapat menghasilkan tegangan dalam orde mikro volt saja. Bila peelitian ini dapat dilanjutkan maka bayangan mengenai lampu diskotik akan dapat menjadi kenyataan. Memang semua mimpi berawal dari ide gila. Namun ide gila itu tergantung orang yang menyikapinya.

Sebenarnya ide ini juga yang membawa saya menjadi salah satu peserta training teknopreneur di Bogor. Dari training teknopreneur itu juga saya mempunyai teman-teman di UNHAS Makasar, UNBRAW di Malang, IPB, UGM, ITS, UNDIP dan universitas-universitas swasta lain di jawa dan makasar. Dari training inilah saya dibekali mengenai wirausaha yang berbasis teknologi. Dari training ini pula saya merasakan pentingnya jalinan silaturahmi bersama anak-anak di Indonesia. Memang salama 18 hari jalinan kasih di wisma takan terlupakan kemesraannya. Namun sayang itu hanya 18 hari.

Ya itu masa lalu masa lalu yang manis yang tidak mudah dilupakan. Kini saatnya mewujudkan kenyataan dengan merancang dan mengimplementasikan alat yag dapat mengubah suara menjadi listrik yang dapat dipakai seluruh umat manusia yang ada dimuka bumi. Tugas awal dari sang dosen untuk membuat prototipe alat ini adalah mencari sensor suara yang menggunakan prinsip kerja piezoelektrik. Namun dari hasil penelusuran di jaya plaza atau pusat komponen elektronik di Bandung saya tidak menemuka sensor ini. Alhasil prototipe alat ini pun tidak dapat diciptakan. Namun dari hasil obrolan saya dengan dosen pengajar rangkaian listrik ini mengenai teknopreneur yang telah saya ikuti tiga bulan yang lalu saya ditawari untuk membuat controller untuk solar cell.

Saat pertama kali mendengar tawaran ini saya agak canggung, karena ini berhubungan dengan mikrokontroler dan kebetulan saya tidak begitu menguasai mengenai materi ini. Saya tidak tahu siapa yang harusnya disalahkan ketika saya tidak tahu mengenai mirokontroller ini. Mungkin bila saya melihat maka ketidak bisaan mengenai mikrokontroler ini adalah karena ulah dosen. Subhanallah… maafkan hambamu ini Allah…hamba tak bermaksud menyalahka siapa-siapa namun inilah kenyataan sistem yang terjadi.

Bagaimana mungkin saya tidak menyalahkan dosen mikrokontroller ini, bayangkan seberapa taggung jawabkah dosen untuk mendidik, mengajarkan, dan mentransfer ilmunya kepada mahasiswa. Bayangkan untuk mengisi kehadiran dosen saat kuliah saja tidak bisa lalu bagaimanakah ilmu itu sampai ke mahasiswa. Bayangkan pula ketika dosen itu mudah dicari dan ditemui. Mungkin bila salah satu poin itu ada itu bukan masalah, namu apa kenyataannya? Mahasiswa dituntut untuk memenuhi kehadirannya lebih dari 75% dan bila tidak memenuhi itu maka mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat mengikuti ujian. Lalu bagaimana dengan dosen? Apakah sangsi dosen yang ketidakhadirannya sama dengan mahasiswanya? Bagaimana ilmu itu bisa penuh kalau kenyataannya kehadirannya saja tidak ada? Apakah ini yang namanya keadialan? Adilkah ya Allah…? Ya Allah ampunilah segalahambamu ini ya y Allah… ampuni juga kesalahan semua dosen-dosen hamba ya Allah… hamba tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, hamba juga tidak ingin menuntutMu Allah… tapi tolonglah kampus ini… tolonglah bangsa ini… tolong juga semua umatMu untuk selalu mengingatMu Allah…

Semua ini memang tidak perlu disesali, sekarang saatnyalah untuk maju membangkitkan semangat belajar layaknya laskar pelangi dengan semua ketebatasannya. Seharusnya saya juga tidak perlu membesar-besarkan ini. Ini semua sudah terjadi toh semester lalu masih ada sedikit ilmu dari hasil praktikum. Saya ungkapkan ini semua kepada dosen saat mendapat tawaran mengenai solar cell ini.

kebetulan saya telah mengikuti pelatihan teknopreneur beberapa bulan yang lalu, menurut dosen rangkaian listrik yang bernama lengkap M. Murti Ari, saya cocok untuk mengambil solar cell ini. Karena ini dapat dikembangkan untuk menjadi bisnis yang bagus untuk masa depan. Bila alat ini jadi maka dapat dipasarkan melalui web site dan secara otomatis uang akan mengalir sendiri dari pemesanan alat ini. Begitulah ujar beliau. Beliau juga menyarankan untuk menemui Pak Harjo ketua Departemen Elektro karena beliau yang berwenang untuk anggaran riset.

Lagi pula menurut beliau bila konsep yang saya dapat ini benar maka kemungkinan hasil energi yang dapat di terapkan maka tegangan yang diapat hanya beberapa mikro volt saja. Dan dari tegangan yang begitu kecil maka kemungkinan penerapannya juga agak sulit. Menurut beliau kemungkinan yang dapat menggunakan energi dari suara ini hanya sebatas jam tangan. Itu pun bila tegangannya cukup. Bila saya benar-benar memaksa untuk meneliti itu maka kemungkinan pembantaian saat sidang sangat mungkin terjadi karena ini sangat simpel dan mudah. Itulah penjelasan beliau yang membuat saya berpikir ulang mengenai ide saya ini.

Sesekali saya tarik nafas panjang. Saya keluar dari ruangan Pak Murti melangkah menuju singga sana yang berada di Gedung E. Di setiap langkah saya selalu berfikir bisakah saya mengambil penelitian ini untuk bahan PA? Sanggupkah kemampuan saya untuk menjalankan penelitian ini? Seperti biasa sepanjang lorong Gedung C ada sebgian mahasiswa yang sedang berlalu-lalang. Sebagian mahasiswa sedang menunggu dosen di samping pintu ruangan dosen. Sebagian yang lain sedang berdiskusi di tempat duduk yang berada di sudut Gedung C di lantai dua.

Memang bila dilihat struktur bangunan di Gedung C hampir mirip seperti huruf L namun yang membedakan adalah sisinya sama. Gedung C terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama berisi ruang dosen dan sebagian laboratorium jurusan elektro. Di lantai dua merupakan pusat administrasi Departemen Elektro disini juga terdapat ruangan laboratorium elektro laboratorium industri dan juga sebagian ruang dosen termasuk Pak Murti dan Pak Harjo. Sedangkan untuk lantai tiga digunakan untuk administrasi Departemen Industri ruang dosen industri dan laboratorium industri. Untuk dapat naik ke setiap lantai ada tiga jalur yang ditempuh. Pertama dapat menggunakan tangga yang terdapat di bagian siku-siku gedung atau bagian ujung masing-masing sisi gedung.

Memang bila dilihat tatanan pembagian gedung ini belum teratur namun di Gedung E dan Gedung F telah ada pengkhususan. Untuk Gedung F adalah gedung laboratorium dan departemen informatika sedang kan untuk Gedung E adalah gedung laboratorium elektro. Masing-masing gedung ini terdiri dari tiga lantai. Bila ingin dijabarkan lagi maka masih banyak gedung di kampus yang unik-unik. Bila di urut maka ururtan gedung yang terdapat di kampus swasta di Bandung ini adalah dari A-K ditambah gedung astri atau asrama putri dan gedung baru yang mulai didirikan.

Namun dari perancanaan pada Master Plan kampus ini baru 40% di bagung kemungkinan baru selesai pada tahun 2020. Dan dari program kampus akan menargetkan menjadi kampus yang bertaraf World Class University pada tahun 2017. Ya mungkin bila dipikir-pikir penggunaan fasilitas yang benar-benar optimal hanya bisa dinikmati oleh anak cucuku kelak. Begitulah saya memprediksikan perkembangan kampus ini.

Dua hari berlalu. Saya tanya teman-teman yang berada di lab CATV sebagian besar teman-teman telah mendapat judul. Saya mulai berfikir “ayo Tio… kapan mau bikin proposalnya… teman-teman udah sebagian besar dapat judul. Ayo… kamu mau kapan…?“ dilema dalam hatiku begitu memuncak. “Ya Allah ampunilah segala dosa-dosa yang telah ku perbuat… berilah pencerahan pada hati ini untuk memilih mana jalan yang harus saya ambil…” sesekali saya tanyakan kepada teman-teman di kelas mengenai judul PA yang akan di ambil. Sebagian sudah dan sebagian belum. Namun dalam hati kecil saya selalu berdoa “ya Allah… saya ingin sebelum Ujian Akhir Semester ini saya telah seminar… ya Allah kabulkanlah doa hamba ini ya Rab…”

Dari hasil sebuah renungan saya teringat perintah Nabi Muhammad untuk melaksanakan solat istikharah ketika mengalami kebingungan dalam memilih. Dari solat istikharah ini saya juga teringat sebuah cerita ketika seorang akhwat mendapat khitbah dari seorang ikhwan. Sang akhwat solat istikharah untuk menentukan diterima atau di tolak khitbah-nya. Dalam hati saya berbicara kenapa saya tidak melaksanakan solat istikharah untuk memilih judul PA saya. Saya coba tanya teman satu kelas saya yang kebetulan masih liqa dengan mutarabinya. Dari hasil cerita pendek tentang solat istikharah itu saya langsung mengamalkan sunah rosul tersebut sebelum asar tiba. Pada sepertiga malam terakhir saya sempatkan waktu untuk curhat bersama sang Khalik.

Jam 09.00 saya mencoba keberuntungan untuk menemui Pak Harjo. Ternyata beliau tidak ada diruangan. Saya mencoba bersantai sejenak di Lab CATV sambil menunggu datangnya kuliah jam 11.00.

Lab CATV yang berarti Laboratorium CATV yaitu laboratorium yang menelitianyang meneliti dan mempelajari mengenai prinsip kerja TV melalui jaringan kabel. Mungkin kalo diperpanjang kepanjangan CATV adalah Cable Television atau sering disebut juga Community Antenna Television. Ya begitulah laboratorium CATV, tapi kebanyakan mahasiswa untuk menyebutkan laboratorium hanya menyebutkan kata “Lab”. Di dalam lab ini terdapat tujuh computer. Dari ketujuh computer itu hanya lima computer saja yang terkoneksi ke jaringan internet.

Saya coba mencari refrensi mengenai solar cell, pembangkit listrik tenaga surya, dan baterai di jaringan internet yang ada di lab. Dari hasil pencarian saya di google ada satu website tentang kimia. Bila tidak salah situsnya www.chem-is-try.org. Ya website ini berbicara segala sesuatu tentang kimia. Artikel-artikel yang ada di dalamnya merupakan artikel-artikel baru tentang kimia. Mulai dari bioteknologi, kimia material, kimia analitis sampai kimia pangan. Dari artikel yang disajikan terdapat 13 halaman yang masing-masing halaman terdapat 20 artikel, termasuk proses solar cell menjadi energi listrik. Disini dijelaskan secara detail mengenai foton yang membebaskan elektron sehingga menjadi listrik dilenkapi gambar-gambar solar cell.

Bila di jelaskan secara umum maka dari energy matahari itu di serap oleh solar cell. Dari energy matahari yang banyak mengandung gelombang-gelombang elektromagnetik itu, electron yang terdapat pada sel surya akan dibebaskan oleh salah satu gelombang elektromagnetik yang bernama foton. Namun hanya foton yang mempunyai energy tertentu yang dapat membebaskan electron yang ada pada panel surya ini.

Tidak terasa dua jam di depan computer begitu cepat berlalu. Jam 11.00 pun telah datang. Kini saatnya menuntut ilmu pada kuliah jaringan computer. Subhanallah… memang ketika setan telah datang menghampiri tubuh kita maka rasa malas begitu mendahsat sehingga seolah-olah kaki ini berat melangkah untuk kuliah. Mungkin bila ditelusuri mengenai mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah datang saat kuliah, inilah rasanya. Kepala ini berat untuk di tegakkan, kelopak mata serasa berat untuk dibuka, tubuh ini serasa ingin di lentangkan. Bila terdapat tempat tidur dan bantal maka ini adalah waktu yang sangat tepat. Apalagi cuaca di luar begitu panas. Bila kulit ini menyentuh sinar matahari selama lima menit saja serasa di bakar oleh bara api.

Perkuliahan ini seperti biasa. Tidak ada yang sepesial untuk pertemuan ini. Layaknya perkuliahan D3 hanya “Datang Duduk dan Diam” walaupun pada kenyataannya perkuliahan Diploma di kelas tidak salamanya seperti itu. Berbeda halnya dengan perkuliahan S1, S2, dan S3. Perkuliahan S1 adalah perkuliahan yang “Serius”, S2 “serius dan serius”, S3 “serius, serius dan serius”. Ya itulah guyonan kita pada anak-anak S1 yang satu angkatan dengan saya.

Hunting Pak Harjo di Gedung C tetap belanjut. Sekilas menghampiri ruangan beliau, ternyata ruangan dibuka. Itu menandakan Beliau ada di tempat. Saya hampiri dengan segera.

“Assalamualaikum…?” itulah kata pertama saya ketika masuk ruangan beliau.

“Walaikumsalam…” jawab beliau dengan lirih.

Percakapan dua manusia yang berbeda jabatan berlangsung. Pada awalnya saya berbicara agak terbata-bata, namun setelah lima menit berlangsung pembicaraan mulai dapat menyesuaikan. Saya utarakan kedatangan saya untuk mengambil judul PA tentang solar cell. Nampaknya Bapak berambut abu-abu ini antusias menyambut kedatangan mahasiswanya. Singkat cerita topic tentang solar cell pun saya dapatkan dan saya tawarkan pada Pak Harjo untuk menjadi pembimbing satu.

Alhamdulillah… pekerjaan satu telah selesai. Sakarang saatnya mencari pembimbing dua. Dari rekomendasi beliau, Pak Murti ditunjuk untuk menjadi pembimbing dua. Saya segera menghampiri Pak Murti yang ruangannya hanya berjarak 5-7 meter dari ruangan Pak Harjo. Tampaknya beliau ada di dalam ruangan. Saya melakukan pembicaraan dengan beliau dan menyampaikan maksud dan tujuan saya yang mendapat rekomendasi dari Pak Harjo. Dengan tanggap Pak Murti langsung meng-iyakan tawaran yang saya sampaikan.

Alhamdulillah… thanks Allah… terima kasih atas apa yang Kau berikan pada hamba ini. Memang hanya Engkaulah yang maha pengasih lagi maha penyayang sehingga segala doa yang hamba panjatkan dapat Engkau kabulkan. Memang Engkau maha dahsat. Tiada yang labih dahsat selain kuasa-Mu Allah…

Andai semua tahu kekuatan dari doa, mungkin tidak ada orang yang ingin melepaskan kesempatan untuk selalu berdoa. Bayangkan bila permintaan kecil seperti ini selalu di doakan dengan sungguh-sungguh maka tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Yakinlah bahwa doa yang kita panjatkan pada Rabb kita akan diberikan yang terbaik. Belum tentu doa yang baik bagi kita baik juga disisi Allah. Mungkin bila Allah tidak mempertemukan saya dengan Pak Harjo maka tiadak ada judul PA yang dapat saya angkat dan bila ini terjadi maka mungkin Allah berkehendak lain. Tapi sekarang bebeda ceritanya. Saya telah mendapat judul PA dan langkah selanjutny adalah membuat proposal untuk dapat di laksanakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS ini.

Uh…!!! Thanks Allah…!!!

Saatnya bergegas untuk membuat proposal ini. Karena minggu depan saya harus selesai memperoleh tanda tangan dosen pemeriksa. Saya buat proposal sesuai refrensi yang saya dapat dari teman. Sebagian copy paste namun dasar teori, batasan masalah, rumusan masalah dan abstrak adalah usahaku sendiri. Semua dasar teori saya ambil dari internet sedangkan abstrak, batasan masalah, dan rumusan masalah disesuaikan dengan kemampuan. Dua hari proposal ini selesai namun harus dikoreksi oleh pembimbing satu dan pembimbing dua.

Ya seperti biasa pencarian dosen tidak selalu mulus sesuai rencana. Bisa satu hari, dua hari mungkin sampai satu minggu. Karena kesibukan Pak Harjo untuk meminta persetujuan dosen pembimbing satu saja butuh waktu satu minggu lebih. Sampai-sampai saya mendapat semprotan dari beliau.

Pada awalnya saya akan meminta persetujuan proposal namun waktu itu kondisi beliau sedang sibuk-sibuknya dan akhirnya proposal saya di tinggal diruangannya. Saya kira hanya dua atau tiga hari saja setelah saya hubungi, beliau menjanjikan hari selasa. Itu juga setelah satu minggu kemudian. Hari selasa pagi saya telepon untuk meminta kepastian proposal saya ternyata belum aktif.

Pada waktu itu saya bingung, ko hand phon-nya belum aktif? Akhirnya saya tinggalkan pesan untuk beliau. Setelah pesan itu masuk ternyata tidak ada konfirmasi lagi dari beliau. Setelah dua jam menunggu ternyata tetap tidak ada pesan yang masuk. Saya mulai gundah dan gelisah. “Ko ga di bales…?” gumamku dalam hati. Terlitas dalam benakku “apa di telepon saja ya?” tanpa pikir panjang lansung saya telepon.

“Assalamualaikum…?” kata pertama yang saya ucapkan via telepon dengan belaiu.

“Walaikumsalam…” jawabnya

“maaf pak, saya Tio Setiawan mau tanya tentang proposal saya. Kira-kira kapan bias saya ambil ya Pak…?” Tanya saya dengan lembut.

kalau anda buru-buru ganti pemeriksa yang lain saja ya!” jawab beliu dengan nada marah.

Sekilas saya lihat HP dan setelah beberapa detik kemudian sambungan itu terputus. Aduh… kok bisa jadi begini… aduh gimana ya…? Bingung tidak henti-hentinya menghantui. Saya coba kembali ke lab CATV saya ceritakan kepada teman-teman apa yang baru saja terjadi padaku. Teman-teman menaggapi berfariasi ada yang memberi solusi namun ada juga yang malah memberi tekanan.

Saya mencoba menenangkan diri dan beberapa saat saya coba kembali mengirim pesan permohonan maaf dan mencoba menanyakan kembali proposal. Alhamdulillah… dari jawaban pesan singkat nampaknya Bapak yang mempunyai tubuh tinggi ini tidak menunjukan tanda-tanda kemarahannya lagi. Dan dari pesan itu juga nasib proposalku mulai jelas. Hari rabu saya dijanjikan untuk mengambilnya. Yes…! proposalku kembali…

Hari rabu pagi jam 10.00 saya menemui Pak Harjo. Hari ini beliau menampakan keramahannya ketimbang hari kemarin. Ya seperti biasa layaknya dosen pemeriksa proposal saya di coret-coret tapi bagi saya itu tidak masalah yang penting bagi saya adalah memperoleh tanda tangannya itu sudah lebih dari cukup. Hari ini nampak lebih menyenangkan bagi saya ketimbang hari-hari sebelumnya. Selain hari ini saya memperoleh tanda tangan Pak Harjo saya juga berhasil menemui Pak Murti untuk menandatangani proposal saya. Ya dua pekerjaan di selesaikan dalam satu hari. Alhamdulillah ya Allah… terima kasih…

Namun saat meminta tanda tangan ada sesuatu yang tertinggal yaitu meminta rekomendasi dosen pemeriksa. Akhirnya saya menemui Pak Harjo kembali dan meminta rekomendasi dosen tersebut. Dari beliau saya mendapat lima dosen yang direkomendasikan namun hanya tiga yang berhak menandatanganinya. Sore itu juga saya mencoba bergerak cepat untuk mencari dosen pemeriksa.

Dalam waktu kurang dari dua jam perburuan tanda tangan, akhirnya saya dapatkan dua tanda tangan dosen. Alhamdulillah… Dalam hati hati kecil saya berbicara “saya harus mendapat satu dosen lagi agar dapat seminar minggu-minggu ini”. Saya coba naiki tangga Gedung C dan menaikinya lagi, begitu juga di Gedung E. Di Gedung E saya naik turun tiga lantai untuk menemui dosen mata kuliah Rangkaian Listrik. Apalagi saya tidak tahu betul muka-muka dosen yang saya cari.

Namun apa daya dosen yang bersangkutan tetap tidak ada juga.“Dimana semua dosen…?“ gerutuku dalam hati. Namun saya tetap berusaha berusah dan berusaha, saya coba cari di tiap ruangan, ternyata tidak ada. Saya coba cari di administrasi jurusan juga tidak ada. Akhirnya saya putuskan untuk menghentikan pencarian dosen ini. Mungkin Allah berkehendak lain.

Sore itu saya merasa lelah sekali, badan ini terasa lemas, kaki ini begetar, nafas sudah tidak teratur. Saya baru ingat hari ini saya belum makan dari pagi, hanya makan kue kecil butan Desi di lab itu juga sekitar enam jam yang lalu. Teman-teman di lab tampaknya tidak memperhatikan kondisi saya. Semua teman-teman nampaknya sedang asik di depan komputer masing-masing untuk menjelajahi dunia maya. Sudahlah saya tidak ingin mengganggu keasikan temen-temen. Dalam kondisi tiduran saya coba menarik nasaf panjang dan menghilangkan lelah. Setelah ini saya harus makan untuk memulihkan kondisi dan istirahat.

Setelah semalam istirahat penuh maka pagi ini adalah pagi yang menyenangkan untuk kuliah dan berburu dosen untuk dimintai tanda tangannya lagi. Memang hari ini adalah hari yang benar-benar hoki. Setelah mendatangi Gedung C tidak lama menunggu saya bisa bertemu Pak Erwin dan meminta tanda tangan. Seperti biasa sedikit sentilan mengenai proposal mengenai telinga saya. Ya tapi itu adalah hal yang wajar.

Memang dosen pemeriksa ditakdirakan untuk menanyakan dan memeriksa apa yang akan di buat mahasiswa nanti. Mungkin bagi sebagian mahasiswa ini adalah bentuk tugas yang membosankan dan harus ekstra kerja keras untuk memperbaikinya. Namun tidak semua mahasiswa menanggapi komentar dosen itu secara negative. Ada juga yang menganggap komentar dari dosen adalah suatu masukan yang perlu dikerjakan agar proyek akhir dapat sukses. Ya memang bila kita membahas ekspresi mahasiswa maka tidak akan habis ekspersi dari tahun ketahun.

Memang tak salah bila hari ini adalah hari yang hoki. Setelah kuliah perancangan jaringan akses nir kabel mendapat tanda tangan Pak Erwin kini pada hari yang sama setelah kuliah kuliah jam 13.20 tanda tangan Pak Angga pun tidak mengalami kesulitan. Terima kasih ku panjatkan kepadaMu Allah… kini saya benar-benar merasakan kedekatan pada Allah swt. Memang ketika ada peribahasa arab mengatakan “Man Jadda Wa Jadda” maka tepat sekali. Mungkin bila di Indonesiakan artinya barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkan.

Hari ini saya merasa senang. Dua tanda tangan dosen telah saya dapatkan. Mungkin bila seseorang belum pernah mengalami hal yang demikian maka tidak ada rasa yang begitu membahagiakan. Ya memang pertemuan yang singkat hanya beberapa menit saja namun ini adalah hal yang berarti. Bila hal ini sudah dialami oleh mahasiswa maka tidak ada yang membahagiakan ketika sudah bertemu dengan dosen pujuaan hati.

Malam itu juga saya berbagi kebahagiaan dengan teman saya. Teman satu SMA yang dulu sempat bergabung di dalam band SMA. Namanya Santi. Dia adalah seorang perempuan yang santun dan berpegang teguh pada aqidahnya. Memang bila diperhatikan tidak sesuai ketika seorang akhwat ikut dalam sebuah band yang beraliran alternative hits. Tapi itu dulu waktu saya belum begitu mengenal Islam seperti sekarang.

Saya sms-an dengan beliau untuk berbagi kesenangan yang belum selesai. Ya memang belum seleseai kala itu untuk meminta tanda tangan dosen. Tapi ku coba luapkan rasa kesenangan itu sembari melepas rindu kepadanya. Memang tidak sepantasnya seseorang yang beraqidah Islam mengatakan ini. Apalagi didalam kajian-kajian keagamaan sering dibahas hubungan dua insan yang berbeda jenis yang belum diikat oleh ikatan yang sah yaitu pernikahan. Namun mau bagaimana lagi, memang ini kenyataannya. Tapi dalam hati tidak ingin hal ini terjadi.

Waktu masa kelulusan saya juga pernah berkata kepadanya bahwa saya ingin mempunyai istri seperti dia. Keberanian yang gila menurut saya sehingga saya berani berucap seperti itu. Namun hal yang paling mendebarkan waktu itu adalah ucapan dia yang terakhir ketika acara malam kenangan yaitu “Apakah Dedi masih mau jadi suamiku…?” ah… betapa senangnya hati ini kala itu, tapi subhanallah. Saya tidak ingin mengingat jaman-jaman jahilliyah saya dulu, walaupun begitu tali silaturahmi saya dengan Santi tidak ingin putus begitu saja.

Waktu terus berlalu. Jalinan silaturahmi kami pun masih tetap jalan sebagaimana yang diharapkan, namun ada sedikit ganjalan dihati. Mulanya saya sangat senang dengan berita ini tapi entah kenapa kenapa ketika dia berkata “jangan bersedih“ maka hati ini terenyuh mendengarkan pernyataannya. “Besok hari selasa saya dipinang”. Itulah pernyataan yang sangat menyenangkan namun juga sangat tidak menyenangkan. Ya memang awalnya saya berfikir positif tentang khitbah namun… Astaghfirullahal’adim… Astaghfirullahal’adim… Astaghfirullahal’adim… sudahlah saya tidak ingin mengingat masa laluku yang pahit ini.

Lain dulu lain sekarang. Sekarang saya hanya berbagi kebahagiaan tanpa berkata macam-macam mengenai hubungan kami. Saya berbagi mengenai kesuksesan saya dalam memperoleh dua tanda tangan sekaligus. Hal ini saya ceritakan padanaya karena dialah yang paling tahu tetntang kebahagiaan ini. Dia paling tahu bukan karena kedekatan kami tapi karena dia sedang merasakan hal yang sama yaitu sedang disibukkan dengan proposal penelitian akhir. Namun bendanya dia meneliti tentang bidang kedokteran gigi sedangkan saya meneliti bidang teknologi kelistrikan.

Ya itulah Santi dengan kesantunan dan kehormatannya pada orang tua. Kini beliau sudah tidak ada kuliah lagi sedangkan lima hari lagi saya harus UAS. Masih ada satu dosen yang harus saya temui lagi untuk memenuhi tuntutan aturan dari jurusan mengenai proposal ini. Dosen yang terkenal tidak pernah masuk ngajar ini memang susah ditemui. Setiap hari saya selalu masuk keruangannya tapi tetap saja tidak ada, sampai-sampai Pak Erwin yang satu ruangan dengan Pak Anto merasa bosan melihat saya yang selalu cari Pak Anto.

Pak Erwin menyarankan saya untuk menelpon beliau, karena kasihan melihat saya yang selalu tidak bertemu dengan Pak Anto setiap masuk ke ruangannya. Dari usul Pak Erwin saya langsung menjalankan usul beliau dengan mencari no HP Pak Anto. Dari administrasi jurusan di Gedung C saya mendapat nomor HP beliau. Dari nomor HP yang saya dapatkan langsung saya hubungi namun tidak diangkat. Saya bingung bagaimana saya harus seminar. Padahal hari ini harusnya sudah selesai mendapat tanda tangan dan siap dipresentasikan. Tapi… astaghfirullah…

Kenapa untuk mencari Pak Anto tidak semudah mencari Pak Erwin dan Pak Angga…? Apa karena akhir-akhir ini kedekatan saya dengan Allah makin berkurang sehingga tidak diridhoi Allah? Astaghfirullah… apa setiap malam saya harus bangun untuk mencurahkan rasa ini dihadapan Allah…? Ya Allah maafkan hamba ini ya Allah karena sedikit melupakanMu…

Setiap malam saya agendakan untuk bangun dan menyurahkan keluh kesah yang saya alami. Tidak jarang tiap bangun saya juga membangunkan Santi. Seperti permintaannya waktu SMA dulu. Nampaknya dia ingin juga mengamalkan sunah Rosul. Di dalam doa saya meminta kepada Allah agar setiap usaha yang saya lakukan mendapat kemudahan-kemudahan dalam melangkah. Selain itu juga saya doakan Mas Pras agar dimudahkan kuliahnya begitu juga adik-adik. Tidak lupa juga saya doakan kedua orang tua disana agar mendapatkan rezeki yang barokah untuk biaya anak-anaknya sekolah. Tidak lupa ucapan terima kasih atas semua kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada kami.

Dalam waktu-waktu tertentu terkadang saya doakan Santi juga. Memang kadang Santi meminta didoakan agar dalam pengerjaan proposal tidak mendapat kesulitan-kesulitan dan kelancaran hubungannya dengan Irin pun saya doakan. Walaupun terkadang Santi tidak tahu tentang hal ini. Jelang ujian ini pun permintaan untuk mendapat nilai yang terbaik menjadi agenda yang tidak pernah terlupakan ditiap malamnya.

Comments
One Response to “Part 1”
  1. tetapbergerak mengatakan:

    Akh awan curhat ni ceritanya…
    uhuk-uhuk…
    Sidang bareng yo wan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: